1.
Gambaran Umum Ritel.
Menurut Gilbert (2003) Retail adalah Semua usaha bisnis yang secara langsung
mengarahkan kemampuan pemasarannya untuk memuaskan konsumen akhir berdasarkan
organisasi penjualan barang dan jasa sebagai inti dari distribusi. Pengertian Retailing adalah semua aktivitas yang mengikut sertakan pemasaran barang dan jasa
secara langsung kepada pelanggan. Pengertian Retailer adalah semua organisasi bisnis yang memperoleh
lebuh dari setengah hasil penjualannya dari retailing ( lucas, bush dan
Gresham, 1994).
2.
Saluran Pemasaran Ritel.
Strategi yang diaplikasikan oleh Retail
Konvensional adalah melalui media iklan secara gencar melalui media massa / radio /
televisi. untuk mempromosikan produknya, oleh sebab panjangnya proses
distribusi yang dilaluinya. Sedangkan strategi yang diaplikasikan oleh Retail
Multilevel adalah melalui individu per individu, yang dimana testimoni /
positive word of mouth menjadi media promosi utama Retail Multilevel, terkadang
media media lain juga digunakan, tetapi hal cara promosi yang paling utama
tetap melalui individu individu yang dissupport secara penuh oleh perusahaan ;
dapat melalui sampling produk, seminar / berpromosi pada komunitas komunitas
besar dan lain lain. Kedua jenis retail diatas sama sama memiliki strategi pemasaran
yang baik.
3.
Proses dan Perencanaan Manajemen Ritel.
Dalam memilih retail store, pembeli mempertimbangkan
banyak hal. Faktor yang diperhatikan adalah yang berkaitan dengan kebutuhan
ekonominya. Faktor-faktor ekonomi yang relevan dalam memilih
retail store antara lain meliputi:
1.
Harga.
Ada retail store yang memasang harga mati seperti
supermarket dan departement store) dan ada pula yang menetapkan harga fleksibel
atau dapat ditawar (seperti discount store).
2.
Kemudahan
Kemudahan parkir, bisa cepat pergi setelah
membayar, dan mudah mencari barang yang diinginkan (meliputi proses menemukan,
membandingkan, dan memilih).
3.
Kualitas produk yang ditawarkan.
4.
Bantuan wiraniaga.
Apakah harus swalayan, membantu ecara pasif, atau
membantu secara aktif.
5.
Reputasi
Kejujuran dan kewajaran dalam jual beli
6.
Nilai yang ditawarkan
Yaitu perbedaan total customer
value dan total customer cost. Total customer value adalah sekumpulan manfaat
yang diharapkan pelanggan dari produk dan jasa, meliputi product value (misalnya
keandalan, daya tahan / keawetan, unjuk kerja), service value (penyerahan barang, pelatihan, instalasi, perawatan,
reparasi), personnel value (kompeten, responsif, empati, dapat dipercaya), dan
image value (citra perusahaan). Sedangkan total customer cost terdiri dari
harga yang dibayarkan, biaya waktu, biaya tenaga, dan
biaya psikis.
7.
Jasa-jasa khusus yang ditawarkan.
Pengiriman barang gratis,
pembelian kredit dan bisa mengembalikan atau menukar barang yang sudah dibeli.
4.
Proses Pembuatan Rencana.
1.
Menetapkan tugas dan
tujuan
Antara tugas dan tujuan tidak dapat dipisahkan, suatu rencana tidak dapat
difrmulir tanpa ditetapkan terlebih dahulu apa yang menjadi tugas dan
tujuannya. Tugas diartikan sebagai apa yang harus dilakukan, sedang tujuan yaitu
suatu atau nilai yang akan diperoleh.
2.
Observasi dan analisa
Menentukan factor-faktor apa yang dapat mempermudah dalam pencapaian tujuan
(Observasi) bila sudah diketahui dan terkumpul, maka dilakukan analisa
terhadapnya untuk ditentukan mana yang digunakan.
3.
Mengadakan
kemungkinan-kemungkinan
Faktor yang tersedia memberikan perencanaan membuat beberapa kemungkinan
dalam pencapaian tujuan. Dimana kemungkinan yang telah diperoleh dapat diurut
atas dasar tertentu, misalnya lamanya penyelesian, besarbya biaya yang
dibutuhkan efisiensi dan efektivitas dan lain sebagainya.
4.
Membuat sintesa
Sintesa yaitu alternatif yang akan dipilih dari kemungkinan-kemungkinan
yang ada dengan cara mengawinkan sitesa dari kemungkinan-kemungkinan tersebut.
Kemungkinan-kemungkinan yang ada mempunyai kelemahan-kelemahan.
5. Management Bay
Objective ( MBO )
Pertama kali diperkenalkan oleh Peter Drucker dalam
bukunya The Practice of Management pada tahun 1954. Management by objective
dapat juga disebut sebagai manajemen berdasarkan sasaran, manajemen berdasarkan
hasil (Management by Result), Goals management, Work planning and review dan
lain sebagainya yang pada intinya sama.
Kegiatan MBO singkatan dari management by objective
yaitu proses partisipasi yang melibatkan bawahan dan para manajer dalam setiap
tingkatan organisasi yang dirumuskan dengan bentuk misi atau sasaran, yang
dapat diukur dimana penggunaan ukuran ini sebagai pedoman bagi pengoperasian
satuan kerja.
Sistem Management By Objective Yang Efektif
1.
Adanya komitmen para
manajer tujuan pribadi dan organisasi, sehingga dia harus berjumpa dengan
bawahannya untuk memberikan penetapan tujuan dan menilainya.
2.
Penetapan tujuan
manajemen puncak yang dinyatakan dalam nilai tertentu yang dapat diukur,
sehingga antara manajer dan bawahan mempunyai gagasan yang jelas tentang apa
yang diharapkan oleh manajemen puncak, sehingga dapat diketahui antara individu
dengan tujuan organisasi secara keseluruhan.
3.
Tujuan perseorangan,
dimana antara manajer dan bawahan harus merumuskan tujuan bersama dan tanggung
jawab terhadap bagiannya secara jelas guna memahami tentang apa yang akan
dicapai.
4.
Perlunya partisipasi
semua pihak, dimana semakin besar partisipasi dari semua anggota, maka semakin
besar tujuan yang akan tercapai.
5.
Otonomi dan
implementasi rencana, disini bawahan dan manajer bebas untuk mengembangkan dan
mengimplementasikan program-program pencapaian tujuannya.
6.
Peninjauan kembali
prestasi yang dilakukan secara periodik terhadap kemajuan tujuan.
Kebaikan dan
Kelemahan MBO
Kebaikan:
1.
Mengetahui apa yang
diharap-harapkan dari organisasi.
2.
Membantu manajer
membuat tujuan dan sasaran.
3.
Memperbaiki komunikasi
vertikal antara manajer dengan bawahan
4.
Membuat proses
evaluasi.
Kelemahan:
1.
Kelemahan yang
melekat pada proses MBO, dalam konsumsi waktu dan biaya yang besar.
2.
Dalam hal
pengembangan dan implementasi program-program MBO.
Proses Pembuatan Keputusan
1.
Pemahaman dan
Perumusan Masalah Manajer harus dapat menemukan masalah apa yang sebenarnya,
dan menentukan bagian-bagian mana yang harus dipecahkan dan bagian mana yang
seharusnya dipecahkan.
2.
Pengumpuland an
Analisa Data yang Relevan Setelah masalahnya ditemukan, lalu ditentukan dan
dibuatkan rumusannya untuk membuat keputusan yang tepat.
3.
Pengembangan
Alternatif Pengembangan alternatif memungkinkan menolak kecenderungan membuat
keputusan yang cepat agar tercapai keputusan yang efektif.
4.
Pengevaluasian
terhadap alternatif yang digunakan Menilai efektivitas dari alternatif yang
dipakai, yang diukur dengan menghubungkan tujuan dan sumber daya organisasi
dengan alternatif yang realistic serta menilai seberapa baik alternatif yang
diambil dapat membantu pemecahan masalah.
5.
Pemilihan Alternatif
Terbaik Didasarkan pada informasi yang diberikan kepada manajer dan ketidak
sempurnaan kebijaksanaan yang diambil oleh manajer.
6.
Implementasi
Keputusan Manajer harus menetapkan anggaran, mengadakan dan mengalokasikan
sumber daya yang diperlukan, serta memperhatikan resiko dan ketidak puasan
terhadap keputusan yang diambil. Sehingga perlu dibuat prosedur laporan
kemajuan periodic dan mempersiapkan tindakan korektif bila timbul masalah baru
dalam keputusan yang dibuat serta mempersiapkan peringatan dini atas segala
kemungkinan yang terjadi.
7.
Evaluasi atas Hasil
Keputusan Implementasi yang telah diambil harus selalu dimonitor terus-menerus,
apakah berjalan lancar dan memberikan hasil yang diharapkan.
Sumber :
www.google.com
www anneahira.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar